Pertama kali anda membaca judul artikel ini, mungkin ada dari anda yang berfikir mungkin saya salah menulis judul. Atau, sejak kapan Tuhan benar – benar sperti manusia yang juga pergi berlibur?
Saya sering kali membayangkan Tuhan seperti layaknya manusia, terutama saat saya berdoa dan mencurahkan isi hati dan pikiran saya pada-Nya. Ini sangat membantu saya untuk lebih merealisasikan wujud Bapa kita dalam pikiran saya. Yah, keterbatasan imaginasi manusia hanya sampai pada benda – benda yang memiliki fisik.
Tapi pernah terfikir oleh saya disaat saya sedang senggang, kalau benar Bapa kita seperti manusia, apa Ia juga butuh istirahat? Apa Ia juga menangis? Saat itu juga, fikiran saya beralih pada kenyataan bahwa Bapa kita adalah Roh, layaknya roh kudus yang tidak mungkin menangis ataupun butuh istirahat.
Sesaat saya merasa diyakinkan, namun saat saya merenung lebih jauh, saya merasa, jika Bapa tidak pernah istirahat, tidakkah Ia terlalu lelah? Mazmur 121: 1-4 menyatakan bahwa Pertolongan kita berasal dari Tuhan, Ia tidak pernah tertidur dan selalu menjaga kita.
Tuhan selalu ada saat kita butuhkan. Bahkan, selalu menjaga kita di dalam setiap keadaan. Ia tidak pernah beristirahat. Teringat cerita Yesus saat ia masih di dunia, Ia tidak pernah mengambil cuti seminggu dalam menjalankan misi dari Bapa. Satu hal yang kita baca, satu – satunya situasi dimana Yesus pergi sendiri ialah waktu dimana Ia hendak berdoa.
Tidakkah Ia merasa lelah? Seperti kita yang saat bangun pagi, sudah ada begitu banyak tugas, pekerjaan, dan aktivitas seharian yang menanti kita. Saat begitu banyak masalah yang datang dihadapan kita. Memikirkan ini semua saja sudah membuat saya begitu lelah.
Apalagi Bapa kita di surga, yang setiap saat melihat kita terus menerus melakukan kesalahan dan tidak mematuhi perintah-Nya. Apakah Ia menangis? Saat Ia melihat salah satu dari kita pergi meninggalkan-Nya dan bersekutu dengan dosa. Saat Ia melihat salah satu dari kita sedang berduka dan butuh pertolongan.
Saya rasa Bapa kita sangat lelah dan jika Ia bisa menangis, maka Ia pasti akan menangis. Tapi satu hal yang bisa kita pelajari dari sosok Bapa kita yang penuh kasih. Selelah apapun Ia, sesedih apapun Ia, Ia selalu setia dan ada untuk melindungi, menjaga, dan mengasihi kita.
Banyak dari kita berfikir Allah sudah capek atau malas dengan keseharian kita yang mungkin terhambat di satu titik dan tidak mengalami peningkatan. Atau, Ia mungkin sudah bosan dan lelah dengan kesalahan kita yang berulang kali masuk dalam dosa. Saya pernah merasa begitu. Tapi, ingatlah, Bapa selalu setia. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Malah, kenyataanya sering kali kita yang meninggalkan dan melupakan-Nya disaat kita merasa kita tidak membutuhkan-Nya.
Sering kali, disaat kita merasa bahagia dan serba berkecukupan, kita melupakan Bapa kita. Kita terlena dengan segala berkat yang dilimpahkan Bapa kepada kita. Namun, kita harus sadar bahwa Bapa adalah sumber kekuatan kita. Kita bagaikan ranting pohon yang akan mati tanpa pokok pohon, yaitu Bapa kita, sehingga kita harus terus menempel, terus mempunyai hubungan dengan Bapa.
Saya merasa, saat bersama Tuhan, saat kita bisa membangun hubungan dengan Tuhan dengan banyak berdoa dan berkomunikasi dengan-Nya, kita akan merasakan damai sejahtera dan kekuatan yang begitu besar untuk menghadapi berbagai masalah.
Mungkin ada beberapa diantara anda bingung, bagaimana berkomunikasi dengan Bapa. Dengan berdoa, berbicara dan mendengarkan perkataan-Nya. Dulu saya merasa bingung. Bagaimana kita mendengar Bapa berbicara? Bacalah alkitab anda, sedikit saja sehari. Dari sini anda akan merasakan, Bapa berbicara dengan anda melalui alkitab, ia akan memberikan intepretasi yang begitu spesifik pada setiap pribadi dalam konteks yang begitu spesifik dalam masalah anda masing – masing. Jika anda masih bingung, coba terapkan dan anda akan mengerti.
Ya, kembali ke kenyataan bahwa Tuhan yang selalu setia dan selalu ada buat kita. Selain kita bisa belajar untuk terus bergantung dengan-Nya, kenyataan ini juga memberikan pelajaran bahwa Bapa adalah teladan yang sempurna.
Kita manusia memang sering kali butuh berlibur. Stress, masalah, dan aktivitas yang begitu banyak membuat kita sering merasa hampir tidak mampu untuk melanjutkan keseharian kita. Namun, ini tidak berarti, dengan berlibur, kita juga berlibur untuk membagikan dan menyebarkan kasih Bapa kita pada orang lain.
Kita bisa belajar dari pribadi Yesus. Saat mukzizat “lima roti dua ikan” (Lukas: 9) terjadi. Yesus saat itu sedang ingin beristirahat setelah lelah seharian mengajar dan menyembuhkan.orang – orang. Namun banyak orang yang mengikuti-Nya. Saat itu, Ia tidak protes dan berkata bahwa Ia sedang beristirahat, namun Ia dengan kasih-Nya yang begitu besar mengajar mereka dan menyembuhkan lebih banyak orang disana.
Kita bisa belajar dari Yesus untuk menyebarkan kasih yang kita miliki kapan saja. Kemanapun kita pergi, selalu ada saja orang yang sangat membutuhkan kasih Bapa dan kasih dari sesama. Bisa saja orang – orang di sekeliling kita sedang merasa kesepian, sedih, stress, atau merasa kehilangan. Terkadang, memberikan senyuman pada sesama atau memuji dan memberikan kata – kata yang memberikan motivasi juga bisa mengubah keadaan menjadi jauh lebih baik.
Sekarang, apakah anda sedang berlibur dalam menyebarkan kasih Bapa pada sesama? Apakah anda berlibur dalam komunikasi dan rutinitas doa anda? Jika iya, mulailah kembali semua itu dan ayo dekatkan diri kita dengan Bapa, agar kita tidak menjadi ranting yang kering namun menjadi ranting yang subur dan dapat berbuah. Sehingga buah itu bisa kita sebarkan untuk teman – teman, keluarga dan orang – orang disekeliling kita.
September 5, 2009
August 26, 2009
Kenapa harus menunggu sampai menikah?
Saya membaca artikel yang ditulis oleh Dr. Ralph F. Wilson ini dan ingin sekali berbagi dengan anda semua. Artikel ini bagus sekali bagi para remaja seperti saya yang terus mencari tahu bagaimana pandangan Tuhan terhadap sex pranikah dan juga bagi para orang tua yang ingin memberikan alas an kuat untuk menunda dan menasehati anak anak anda untuk menunda sex sampai mereka menkah.
Kenapa kita harus menunggu hingga kita menikah untuk melakukan hubungan sex? Apakah Tuhan adalah pribadi yang tidak suka kalau kita bersenang senang? Tidak, tapi Tuhan adalah Bapa dan Ia telah melihat begitu banyak hubungan dari anak anakNya yang gagal karena bermain main dengan sex. Orang tua mempunya banyak sekali alas an – alsan yang bagus- untuk mengatakan tidak dalam hal ini.
Jika Bapa kita hidup di era 90an, dan kita bertanya kepadaNya mengapa, Ia mungkin akan memberikan kita banyak alasan yang bagus untuk itu. Mari coba kita lihat beberapa alasannya.
Hubungan yang Indah
Kenapa harus menunggu? Karena hubungan sex merupakan hubungan yang indah diantara sesame manusia ciptaanNya. Sex itu indah. Setiap hubungan sex yang dilakukan selalu mempunyai kemungkinan untuk menghasilkan anak, mukzizat kecil yang hadir dengan begitu mungilnya saat pembuahan terjadi. Dan oleh karena kita semua sangat menghargai nilai dan arti dari sebuah kehidupan walaupun dalam bentuk bayi sekalipun, kita tidak seharusnya merendahkan nilai apa yang menyebabkan hadirnya kehidupan itu, sex. Kita seharusnya menjaga keindahan dan kemurniannya.
Mungkin anda terfikir, bagaimana jika kita menggunakan pil pencegah kehamilan? Tapi tahukah anda 1/5 bayi yang lahir di Asia berasal dari keluarga yang tidak menikah? Dan tahukah anda 1 dari 4 bayi menghadapai proses yang dinamakan aborsi? Apakah sekarang anda mulai berfikir pil pencegah kehamilan bukanlah pengaman yang cukup aman untuk menjauhakn kita dan anak anak kita dari kerugian dan keterlukaan?
Jadi, jika saya berfikir dari perspektif Tuhan yang selalu ingin menghindarkan anak anakNya dari hal hal yang tidak baik, saya rasa Ia akan menganjurkan untuk menunggu hingga kita menikah karena sex menhasilkan bayi dan bayi lebih baik dilahirkan dalam keluarga yang memiliki dua orang tua yang saling mencintai dan mencintai bayinya.
Kondom
Kondom sekarang sangat umum digunakan sekarang ini. Mengapa? Karena dapat mencegah kehamilan? Kondom ternyata hanya melindungi 70%. Tapi alas an yang paling utama untuk menggunakan kondom adalah sex yang aman. AIDS telah menyebar secara merata di masyrakat dan kita bias saja terinfeksi tanpa mengetahui gejalanya dalam beberapa tahun petama. Jika kita memakai kondom kita hanya melindungi diri kita sebnayak 70% dan tahukah anda HIV berbentuk jauh lebih kecil dari sperma? Ada satu cara yang lebih aman untuk melindungi diri kita dari HIV. Cek diri anda dan pasangan anda dan berhubunganlah hanya dengan pasangan anda. Apakah kedengarannya seperti monogamy? Pernikahan? Hmm.. Kedengarannya ini yang diinginkan oleh Bapa kita.
Perceraian
Sekarang ini banyak sekali kasus perceraian yang kita dengar. Seperting kawin cerai adlah suatu trend masa kini yang sedang popular. Banyak orang berfikir, kenapa kita harus menikah jika tingkat kegagalannya tinggi? Jadi banyak pasangan tinggal bersama tanpa menikah.
Hal ini sering dilakukan untuk melakukan masa percobaan sebelum menikah. APakah hal ini pada akhirnya bias meningkatkan kelanggengan dalam berumah tangga? Dr. Ralph F. Wilson menyatakan bahwa setelah banyak studi dan research dilakukan, semua berkesimpulan bahwa tinggal bersama tidak membuat pernikahan menjadi langgeng. Saya kira Tuhan mungkin telah mempelajari sosiologi jauh sebelum ini hingga Ia tahu apa yang terbaik buat kita.
Teladan yang buruk
Banyak sekali sekarang ini orang tua tunggal yang tidak hendak menikah memilih untuk tinggal bersama dangan pasangannya dan melupakan satu hal yang paling penting. Apakah yang diajarkan para orang tua ini kepada anak anaknya tentang pernikahan? Apa yang mereka ajarkan tentang komitmen? Saat anak anak ini telah tumbuh dewasa dan juga mengenal tentang sex, bagaimana orang tua ini bisa menashati anak anak mereka untuk menunda?
Ya dan Tidak
Ya, Tuhan akan berkata, tunggulah. Sekarang kita sudah mengerti bahwa Tuhan bukanlah tidak suka kita bersenang senang tapi Ia katakana ini karena Ia menyayangi kita dan apapun yang dapat melukai dan menyakiti kita pastilah Ia jauhkan dari kita. Tapi mungkin dari kita sudah ada yang terlanjur terluka. Kita telah berdosa. Tapi cerita tentang seorang wanita yang telah berdosa dengan melakukan pencabulan yang menemui Yesus dan Ia maafkan dan Yesus berpesan untuk tidak melakukannya lagi memberitahu kita Yesus berkata tidak untuk hal hal yang akan melukai kita. Yesus mengerti kita. Yesus selalu memaafkan kita dan selalu memberikan kita kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan Ia menyembuhkan segala luka sebab Ia adalah Tuhan.
Jadi, teman teman, orang tua ataupun siapapun anda yang membaca ini, marilah kita belajar untuk mengatakan tidak dan menjaga diri kita dan anak anak kita gar tidak terluka. Mungkin kedngarannya sangat kuno dan tidak berfikiran terbuka. Tetapi asal itu baik bagi kita, kenapa tidak?
Kenapa kita harus menunggu hingga kita menikah untuk melakukan hubungan sex? Apakah Tuhan adalah pribadi yang tidak suka kalau kita bersenang senang? Tidak, tapi Tuhan adalah Bapa dan Ia telah melihat begitu banyak hubungan dari anak anakNya yang gagal karena bermain main dengan sex. Orang tua mempunya banyak sekali alas an – alsan yang bagus- untuk mengatakan tidak dalam hal ini.
Jika Bapa kita hidup di era 90an, dan kita bertanya kepadaNya mengapa, Ia mungkin akan memberikan kita banyak alasan yang bagus untuk itu. Mari coba kita lihat beberapa alasannya.
Hubungan yang Indah
Kenapa harus menunggu? Karena hubungan sex merupakan hubungan yang indah diantara sesame manusia ciptaanNya. Sex itu indah. Setiap hubungan sex yang dilakukan selalu mempunyai kemungkinan untuk menghasilkan anak, mukzizat kecil yang hadir dengan begitu mungilnya saat pembuahan terjadi. Dan oleh karena kita semua sangat menghargai nilai dan arti dari sebuah kehidupan walaupun dalam bentuk bayi sekalipun, kita tidak seharusnya merendahkan nilai apa yang menyebabkan hadirnya kehidupan itu, sex. Kita seharusnya menjaga keindahan dan kemurniannya.
Mungkin anda terfikir, bagaimana jika kita menggunakan pil pencegah kehamilan? Tapi tahukah anda 1/5 bayi yang lahir di Asia berasal dari keluarga yang tidak menikah? Dan tahukah anda 1 dari 4 bayi menghadapai proses yang dinamakan aborsi? Apakah sekarang anda mulai berfikir pil pencegah kehamilan bukanlah pengaman yang cukup aman untuk menjauhakn kita dan anak anak kita dari kerugian dan keterlukaan?
Jadi, jika saya berfikir dari perspektif Tuhan yang selalu ingin menghindarkan anak anakNya dari hal hal yang tidak baik, saya rasa Ia akan menganjurkan untuk menunggu hingga kita menikah karena sex menhasilkan bayi dan bayi lebih baik dilahirkan dalam keluarga yang memiliki dua orang tua yang saling mencintai dan mencintai bayinya.
Kondom
Kondom sekarang sangat umum digunakan sekarang ini. Mengapa? Karena dapat mencegah kehamilan? Kondom ternyata hanya melindungi 70%. Tapi alas an yang paling utama untuk menggunakan kondom adalah sex yang aman. AIDS telah menyebar secara merata di masyrakat dan kita bias saja terinfeksi tanpa mengetahui gejalanya dalam beberapa tahun petama. Jika kita memakai kondom kita hanya melindungi diri kita sebnayak 70% dan tahukah anda HIV berbentuk jauh lebih kecil dari sperma? Ada satu cara yang lebih aman untuk melindungi diri kita dari HIV. Cek diri anda dan pasangan anda dan berhubunganlah hanya dengan pasangan anda. Apakah kedengarannya seperti monogamy? Pernikahan? Hmm.. Kedengarannya ini yang diinginkan oleh Bapa kita.
Perceraian
Sekarang ini banyak sekali kasus perceraian yang kita dengar. Seperting kawin cerai adlah suatu trend masa kini yang sedang popular. Banyak orang berfikir, kenapa kita harus menikah jika tingkat kegagalannya tinggi? Jadi banyak pasangan tinggal bersama tanpa menikah.
Hal ini sering dilakukan untuk melakukan masa percobaan sebelum menikah. APakah hal ini pada akhirnya bias meningkatkan kelanggengan dalam berumah tangga? Dr. Ralph F. Wilson menyatakan bahwa setelah banyak studi dan research dilakukan, semua berkesimpulan bahwa tinggal bersama tidak membuat pernikahan menjadi langgeng. Saya kira Tuhan mungkin telah mempelajari sosiologi jauh sebelum ini hingga Ia tahu apa yang terbaik buat kita.
Teladan yang buruk
Banyak sekali sekarang ini orang tua tunggal yang tidak hendak menikah memilih untuk tinggal bersama dangan pasangannya dan melupakan satu hal yang paling penting. Apakah yang diajarkan para orang tua ini kepada anak anaknya tentang pernikahan? Apa yang mereka ajarkan tentang komitmen? Saat anak anak ini telah tumbuh dewasa dan juga mengenal tentang sex, bagaimana orang tua ini bisa menashati anak anak mereka untuk menunda?
Ya dan Tidak
Ya, Tuhan akan berkata, tunggulah. Sekarang kita sudah mengerti bahwa Tuhan bukanlah tidak suka kita bersenang senang tapi Ia katakana ini karena Ia menyayangi kita dan apapun yang dapat melukai dan menyakiti kita pastilah Ia jauhkan dari kita. Tapi mungkin dari kita sudah ada yang terlanjur terluka. Kita telah berdosa. Tapi cerita tentang seorang wanita yang telah berdosa dengan melakukan pencabulan yang menemui Yesus dan Ia maafkan dan Yesus berpesan untuk tidak melakukannya lagi memberitahu kita Yesus berkata tidak untuk hal hal yang akan melukai kita. Yesus mengerti kita. Yesus selalu memaafkan kita dan selalu memberikan kita kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan Ia menyembuhkan segala luka sebab Ia adalah Tuhan.
Jadi, teman teman, orang tua ataupun siapapun anda yang membaca ini, marilah kita belajar untuk mengatakan tidak dan menjaga diri kita dan anak anak kita gar tidak terluka. Mungkin kedngarannya sangat kuno dan tidak berfikiran terbuka. Tetapi asal itu baik bagi kita, kenapa tidak?
Subscribe to:
Posts (Atom)
